Sebuah
tulisan menghibur sekaligus mengharukan dari @yoiyoa yang sedianya
dimuat tgl 14 kemarin, namun karena kendala teknis jadi tak terpublished
:) . Silakan dinikmati sampai selesai.
Lama tak menulis,
Semenjak Laptop kesayangan hilang digondol maling disebuah bus malam,
begini ceritanya, loh kok..oh saya lupa, kali ini tidak sedang menulis
“siapa yang paling nestapa didunia ini karena laptop berisi banyak data
penting telah dicuri orang.”hehe. Tiba-tiba saya ingin nulis tentang
Terapi, tp ini bukan tulisan pysioterapis , Cuma dari penulis kambuhan
yang kebetulan suka LFC, dan sudah lama gak nulis. Tapi saya selalu
menulis serius dan bukan Cuma menulis iseng, selamat menikmati,
tertawalah jika memang lucu dan menangislah jika pacarmu direbut orang.
Percaya atau tidak, Liverpool FC adalah terapi yang bagus untuk kita
semua, dalam semua aspek kehidupan, Mulai dari kesehatan, mental,
keuangan bahkan perjodohan, walau saya bukan psyikolog, tapi saya berani
menjamin itu, apa buktinya, begini : tulisan ini terinspirasi dari
hastag di @LFC_ID dimalam hari kasih sayang yang membuka biro jodoh
instan dengan #JodohLFC, ini luar biasa, Admin bisa masuk surga oleh
karenanya, kalau berhasil memasangkan jomblo yang satu dengan lainnya,
tapi saya curiga ini bagian dari hiden agenda Manajemen LFC secara
global melalui akun-akun dibawahnya , hehe lebay, bahwa sebenarnya ini
adalah hiburan yang dirancang untuk menyengkan setiap hati liverpudlian,
yang baru saja patah hati, ketika pasukan Steve Clarke memberikan
pelajaran berharga di 10 menit terakhir untuk Gerrard dan kawan-kawanya.
Anfield seperti terbakar, tersulut api yang tadinya kecil namun lupa
dipadamkan, kemudian membesar di akhir pertandingan, lalu Angin bertiup
begitu kencang merobohkan tembok-tembok pertahanan terakhir, seperti
rumah tak berpondasi. Rapuh.
Tapi sudahlah, walau mengecewakan,
kita masih dapat melihat liverpool menang lawan WBA di hari-hari
mendatang, dan yang saya bilang tadi ini adalah bagian dari terapi yang
baik untuk para pencinta LFC. Yang penting hari ini tanggal 14, dan
selamat untuk yang merayakannya, maaf untuk yang belum beruntung.
Terapi Kasih sayang
Berbicara kasih sayang, menjadi tidak begitu bermakna ketika semua
orang membahasnya hari ini, tapi akan jauh lebih menarik, jika kita
geser sedikit, kasih sayang itu sebagai sebuah terapi yang baik,
terutama bagaimana Liverpool FC menjadi bagian kecil dari kehidupan dan
kasih sayang, wah mungkin aneh yah, tapi gak juga, begini misalanya:
pertanyaan banyak orang yang sering didengar “alah udah kalah
terus,juara juga udah lama, masih juga dibela-bela.” Iya benar, Pasti
orang yang nanya itu jauh lebih waras dari pada kita, hehe, karena
mereka bertanya menggunakan fakta, Nah kita sebagai Fans liverpool harus
jawabnya pake hati, karena kalo jawabnya dengan fakta, pasti mudah
dibalikan lagi. “ah, gak apa-apa sering kalah juga, yang penting udah
juara champions 5 kali”, Eits….jangan jawab kaya gitu, itu udah klasik
banget, hehe, yah terserah lah jawab apa kek, yang penting Liverpool di
hati lah, nah artinya, apalagi kalo bukan sayang, ibarat pacar udah
ketauan selingkuh, tp kita tetep ngarep dan masih cinta sama doi, yah
mungkin kaya gitu contohnya, nah bodohnya lagi, gonta-ganti pacar
sering, selingkuh jalan terus, Tapi disuruh pindah tim dari Liverpool ke
tim lain nggak mau, Apalagi suruh dukung MU, yah kan,gak mau kan? Itu
apa namanya kalo bukan cinta mateeee…
Jangan berkecil hati buat
yang masih pada jomblo,banyak venue-venue nobar bisa jadi tempat
alternatif tempat bertemunya jodoh loh, sudah banyak kok buktinya, dan
biasanya banyak Liverpudlianwati yang jomblo juga, hehe, oh iya, tp
jangan curang yah, udah punya cewe gak diajak, pas di tempat nobar,
ngegebet Liverpdulianwati, dengan alasan yang ngehe banget “cewe itu
kalo pake jersey LFC keliatan lebih cantik.” Mendinga dandanin cewe lo,
belin jersey KW super juga gak apa-apa kok, Cuma 120rb, kan udah keren
tuh, abis itu ajak deh ke tempat nobar, pasti lo jadi cowo paling keren
deh malem itu, yah tentu aja karena lo ngegandeng cewe yang pake Jersey
Liverpool, eh minggu depannye, cewe lo, jalannya udah sama temen lo
sendiri mate, terus emosi dong, elu tanya ke temen nobar lo, eh, elu kok
ngegebet cewe gw sih, dan temen lo menjawab dengan suara lantang tapi
santun, “Abis cewe lo cantik banget sih, pake jersey Liverpool.”
Gedubraaakk…..Podoo waee..
Yang jelas begini Liverpool gak
bisa lepas dari kasih sayang, udah terlalu banyak yang di korbanin demi
Liverpool, bayangin banyak uang habis buat beli jersey, berapa kali
ngebohong Cuma untuk nobar, keluar malem-malem, pulang pagi, udah gitu
kalah lagi, sampe rumah di manyunin sama orang tua, atau sama istri
tercinta..atau yang masih jomblo, paling diketawain sama pager rumah.
Ini terapi yang bagus buat kita semua, bagaimana menjadi pribadi yang
penuh kasih sayang, rela berkorban untuk orang-orang yang kita
sayanginin…cie-cie, udah kaya konsultar perkawinan aja yah ini.
Terapi Spiritual
Urusan menunggu gelar juara, sama lamanya seperti menunggu kekasih yang
tak kunjung datang, Namun tak usah berkecil hati, @LFC_ID sudah
memfasilitasi itu dengan baik, walau ternyata jadi ajang lucu-lucuan dan
hiburan tengah malam. Jadi kalo belum dapet jodoh yah terpaksa kita
harus kembali pada pepatah lama “Jodoh ada di tangan Tuhan” hasilnya
yang menentukan yang diatas. Pertanyaanya adalah, Apakah Gelar Juara LFC
juga ada di tangan Tuhan ?, oh itu debatble, kalau ada istilah si
Tangan Tuhan yang tadinya di pegang Maradona di Piala Dunia Mexico 1986,
yang kini sudah menjadi milik Luis Suarez pasca penyelamatan tangan
Tuhannya yg sanagat heroik di perempat final Piala dunia Afsel 2010. Nah
artinya itu sebagai bukti Bahwa kuasa Tuhan menjadi mutlak diserahkan
pada tiap individu-individu dan Usaha masing-masing umatnya. Alah..kok
kalimat diatas serasa kaya ustadz atau motivator aja yah…
Tp
bener begitu kok, Artinya kalau LFC mau juara atau digdaya seperti 20
tahun silam, banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, walau kita
semua tahu caranya, tp yakinlah, bahwa kita tidak bisa berbuat banyak
untuk meramu strategi, atau membeli dan menjual pemain sesuai
keingininan kita, yang harus dilakukan adalah, terus mendukung dan
memperbanyak doa dan Ibadah. Walau pun kita fans garis keras sekali pun,
mau sekeras otot kawat tulang besi juga, kita yang di Indonesia Cuma
bisa memberikan support yang tulus dan ikhlas tanpa mengeluh untuk LFC
tercinta. Bahkan saya pernah melihat beberapa fans LFC di twitter,
menyatakan dirinya fans Garis kenyal, yah itu dia, mungkin mereka gak
mau keras-keras banget, atau kelembekan juga gak enak kali yah…hehe.
Sekali lagi LFC terpaksa membuat kita harus mendekatkan diri pada yang
diatas, Ternyata efek nya sangat baik loh, Bukan hanya mendoakan Suarez
mencetak gol, atau Pasukan Rodger bermain bagus, tetapi untuk bekal
dihari nanti biar masuk sorga. Amin, Bukan begitu mate.
Terapi Kesehatan dan Kesetanan
Kesehatan adalah bagian penting dari kehidupan, Sebagai fans tim sepak
bola, artinya kita peduli dengan kesehatan, walau banyak fans Liverpool
tidak bisa main bola, seperti saya contohnya, tapi Liverpool FC
menawarkan kesehatan bagi pencintanya, olah raga jantung salah satunya,
kecepatan jantung dipacu sangat cepat setiap tim lawan sedang meneror
gawang Reina, Buat saya, Gol Aguero ke gawang reina 2 minggu kemarin,
adalah terapi kejut yang sangat dahsyat, bayangkan, jantung yang tadinya
dag-dig-dug berdetak sangat kencang, tiba-tiba dipaksa berhenti oleh
Aguero, seperti mobil yang sedang ngebut, tiba-tiba berhenti mendadak,
langsung oleng dan terpelanting, gak karuan, dan banyak lagi, kekalahan
demi kekalahan membuat jantung saya kini terlatih dengan baik,
kontrolnya pun sudah bisa diatur sedemikian rupa, dan membuat saya lebih
sehat, menurut versi saya sendiri loh, kalo kata orang mah “Spor
jantung”.
Yang paling dirasakan dampaknya bagi kesehatan
adalah, kumpul-kumpul yang berakhir di lapangan futsal atau lapangan
bola sungguhan, Komunitas nonton bareng berdasarkan tempat tinggal
menciptakan sebuah keharmonisan tersendiri, aktifitas yang menyehatkan,
mulai dari main futsal,basket, bersepedah, sampai para pendaki gunung,
yang bernaung di bawah panji-panji LFC, mungkin sebentar lagi akan
terbentuk kelompok gulat atau pola air, dan ada kelompok yang mempunyai
misi sangat militan yaitu PASUKAN BERANI MANCING LFC, walau bawa pulang
ikan kecil-kecil dan sampe rumah di cemberutin istri, mereka tidak
lantas Jera, setelah menanggalkan gagang pancing, kemudian mandi, lanjut
ke venue Nonton bareng, bahkan ada yang masih membawa Joran ke tempat
Nobar. Haha….its Crazy.
Satu lagi yang sulit dihilangkan, yaitu
Kesetanan, ini sukar disembuhkan, tapi dapat dikendalikan. ini
senantiasa ada dalam tubuh semua Liverpudlian di Indonesia, Cuma kadar
nya yang berbeda, yang menentukan adalah tingkat kedewasaan, Pendidikan
dan tentu saja penegtahuan soal bola dan sejarah sepak bola. Memang
kadang kala fanatisme lebih kejam dari pembunuhan atau fitnah sekalipun.
Yah, ini soal kebencian, butuh terapi yang panjang dan lama untuk
menyembuhkan penyakit kesetanan ini, kadang menghawatirkan, tapi banyak
juga membuat lucu, banyak cerita soal ini, yang pasti ketika mendengar
kata si “Setan Merah”, beribu-ribu reaksi yang akan muncul, ada yang
kejang-kejang, ada yang lansung mengambil kuda-kuda, ambil dupa atau
ambil sejadah dan banyak lagi, Sebenarnya penyakit kesetanan ini tidak
harus disembuhkan, Fans LFC yang baik adalah ketika bisa mengontrol
emosis sesaat dan hawa panas yang di pancarkan dari si setan merah itu.
Ini sudah seperti phobia tersendiri, apalagi kalo di twitter atau grop
chating ada yang bergosip ria “WOIII JERSEY LIPERPOOL Di BAKAR FANS
EMYUUU DISONO NOH”. Kalo udah ada kabar begitu, semua heboh, kalo saua
Cuma mau ketawa, tapi banyak juga yang gak bisa terima, seperti ternodai
dan teraniaya Dan siap pasang badan untuk jadi bagian dari perlawanan,
haha, ini fenomena menarik, walau belum ada penelitian tentang ini, saya
meyakini, kelucuan ini Cuma ada di Indonesia. Penyakit kesetanan ini
banyak yang sudah akut, tapi tidak sedikit yang menyederhanakan
kebencian teresebut, dengan tersenyum dan pikirian yang logis.
Ini adalah pembahasan yang tidak akan tuntas, lelah rasanya membuang
banyak energi untuk menulis kesetanan ini, tidak perlu terapi khusus,
Cuma perlu bersahabat pada kecemasan yang kita rasakan, dua kali kalah
dari setan merah di musim ini, adalah pelajaran yang bagus untuk mawas
diri dan menjadi fans yang lebih mengerti akan arti kekalahan, Kalah
dari MU bukan kiamat buat kita, ini juga menjadi terapi yang baik untuk
lebih bersabar dan lapang dada, persaingan belum usai, walau 4 besar
Cuma jadi wacana, atau menyelahkan kinerja wasit di musim ini adalah
percuma. kasian tiang gawang sudah menjadi kambing hitam dimusim lalu,
dan sekarang mendingan kita menyalahkan tiang jemuran aja gimana?.
Saya melihat banyak fans LFC yang sudah matang, dalam artian
sesungguhnya (tua.red), lebih kalem dalam menyikapi masalah kesetanan
ini, dan buat para Liverpudlian yang masih berdarah segar, mungkin ada
waktunya dimana darah kalian nantinya akan lebih merah lagi daripada
saat ini, ketika penyakit kesetanan itu sudah benar-benar menjadi
kesehatan yang hakiki.
Terapi Mental
Buat yang gak
sabar jangan menjadi Fans Liverpool FC, seru seroang kawan dalam
twitternya, sabar dan sabar, itulah kata kunci dalam tulisan saya kali,
ini, Jadi jangan pernah mengaku Liverpudlian kalo tidak sabaran, sabar
mengajarkan banyak hal buat kita semua, coba kalau kita hidup di era
dimana Nomer 7 masih di punggung King Kenny, mungkin kita tidak perlu
menunggu gelar juara, atau gol-gol balasan ketika Liverpool dalam
kondisi tertinggal, kita bisa lebih sombong dari saat ini, dimana
daratan eropa sudah disandra dengan kemahsyuran mersyside merah, tp
tentu saja, saat itu fans Liverpool di Indonesia tidak sebanyak
sekarang, Hanya TVRI bersama bung sambas yang menjadi corong informasi
kehebatan The Reds, dengan durasi yang sedikit dan jarang tentunya.
Tapi yah itulah kerennya Liverpudlian, sering kalah dan inkonsisten aja
fans nya masih bisa pasang aksi, dan tetap bisa foto-foto sehabis
nonton bareng. Apalagi slalu menang dan banyak angkat tropi. mungkin ini
juga bagian dari terapi yang harus kita jalankan, selain sabar, sedikit
lebih melatih mental agar terus dapat lebih belajar dari banyak
kekalahan, bukan saja kekalahan di setiap pertandingan, kekalahan dalam
hidup, bahkan kekalahan dari sanginan dalam mendapatkan pacar, hehe.
mengatur strategi yang lebih matang, menata ulang berbagai persepsi yang
salah selama ini, dan siap melakukan serangan balik yang lebih
mematikan, tapi yah itu tadi, kalau belum sabar, pasti susah juga
melakukan serangan keren dan hasil maksimal.
Ini contoh
sederhana bagaimana saya menjadikan Liverpool menjadi terapi mental yang
baik, Nadya 10 tahun, Kelas 5 SD, pasca kecelakaan 2 tahun lalu, Nadya
mengalami banyak goncangan dalam hidupnya, bayangkan ketika semua teman
sekolahnya tidak bisa menerima Nadya karena bagian kaki kirinya harus di
Amputasi diatas lutut, jadi teman-temanya menganggap nadya berbeda
dengan mereka.”Nadya Punya Allah dan Nadya punya Liverpool”, begitu
katanya, dia tau, Ayahnya seroang penggila Liverpool, Kalau saya mau
nobar, dia selalu bilang “ayah mau ibadah yah?, jangan lupa nyanyi YNWA
yang khusuk yah” dia mengatakan itu, ngeledek sebenarnya, karena gak
bisa ikut nobar yang udah terlalu malam buat dia, saya Cuma ketawa. dia
mengerti bagaimana ada nilai spiritual dalam sepak bola, terutama
Liverpool. Pertama kali dia merasakan menjadi seorang Liverpudlian
ketika nonton film Will, Dia mulai mengerti fans bukan hanya penonton
sepak bola yang pasif, tapi bagian dari keluarga besar yang saling
mendukung. Suport terhadap dirinya dari keminderan dan bully teman-teman
disekolah dan rumahnya tadinya sangat sulit, Penyandang difabel di
Indonesia tidak banyak diuntungkan, apalagi didaerah, jangankan mau
nonton bola di stadion, dengan antrian khusus atau tempat duduk yang
sudah disediakan.
Tapi hebatnya Nadya tidak pernah merasa
dirinya seorang difabel apalagi berkebutuhan khusus, dia tidak butuh
dikasihani, dia melakukan semua aktifitas disekolahnya seperti biasa,
ikut tapak suci, bahkan ikut bermain bola, walau lawannya Cuma anak
kelas 1 dan kelas 2 yang badanya jauh lebih kecil dari dia, posisinya
adalah penjaga gawang, yang paling lucu adalah, ketika saya kasih liat
gol aguero ke gawang reina kemaren via youtube, komentarnya sederhana,
“alah, kalo gitumah, Nadya nendang pake kakipalsu juga kebobolan tuh si
pepe”, cukup mengelitik, Artinya, secara mental dia jauh lebih kuat,
bayangkan ketika dia mampu sesumbar untuk mengoyak gawang Reina dengan
kaki fiber yang beralas karet sintetik. Walau tadi siang alas kakinya
baru saja jebol,main bola katanya, kondisi cuaca wonosobo yang slalu
hujan dan lembab, juga jadi penyebab lepasnya sambungan dibagian bawah,
tapi sebelum menulis ini, saya sudah reparasi.
Bukan itu saja,
Lagu “You’ll Never walk alone, benar-benar menjadi kekuatan tersendiri
buat Nadya, selama diperjalanan dia selalu puter lagu itu, dan sing
along, walau bersanding lagu cherrybelle,koboy junior dan akhir-akhir
ini YNWA diselingi lagunya cakra khan yang saya gak tau judulnya, tapi
saya suka nyanyi bareng dia juga. Haha. Dan seminggu lalu tiba-tiba dia
bilang, Pengan ikut Kontes nyanyi “BIG REST”, saya tanya “hah, kontes
apaan itu kak”, itu loh, masa gak tau sih, tiba-tiba dia nyanyi deh
“many miles away from anfield”, oh itu “BIGREDS kak, bukan BIG REST”,
langsung saya bbm si anak kunyuk a.k.a fuaddinejad, eh gak
dibales-bales, dan ternyata udah ditutup juga sayembaranya per 1
februari kemarin. Sekali lagi,
Liverpool membantu saya
membesarkan seorang anak yang harus bermental kuat, Nadya suka Suarez,
bukan karena gocek ala drunken masternya di kotak pinalty lawan, tapi
karena, dia merasa, gigi kelincinya mirip dengan sarez,hehe. Cerita
terakhir adalah, ketika Nadya tau, Liverpool akan datang ke Indonesia,
dia sangat berharap kakinya mendapat tanda tangan dari Steven Gerrard,
biar kaki palsunya sekuat kaki Gerrard, Padahal saya sudah meyakini
bahwa kaki kirinya lebih kuat dari Gerrard, karena terbuat dari fiber
dan Buktinya belum lama ini, salah satu anak yang main bola lawan Nadya
memgalami bengkak dibagian kaki dan kabarnya anak itu nangis-nangis,
Karena berbenturan dengan kaki fibernya Nadya. Walaupun dia masih sering
bermimpi bahwa kaki palsunya dapat mengeluarkan darah juga,tapi berwana
pink..Hahaha. Itu pasti, kaki asli lawan fiber, yah menang fiber lah,
daerah saya disini juga terkenal sebagai sentra penghasil durian terbaik
di wonosobo, di musim duren tahun lalu, dia melakukan akrobat bak debus
yg membuat saya terpingkal-pingkal, bayangkan kulit durian yg tajam
diadukan ke kaki palsunya berkali-kali, sambil menantang saya,”apakah
saya bisa melakukan hal seperti dia?”. Bahkan pisau untuk membelah duren
pun di bacok-bacokan ke kakinya juga sambil terseyum dan berkata “gak
berani kan kaya nadya”.
Itu masih sedikit bagaimana saya
menggunakan berbagai macam cara untuk terus membuat dia jauh lebih kuat
di tengah-tengah masyarakat yang masih ekstrim memandang perbedaan
apalagi kekurangan. Menyadarkan banyak orang agar lebih menghargai
sesama tentu tidak mungkin bisa dilakukan, yang harus dilakukan adalah
terus-menerus memberikan energi postif kepada dia agar jauh lebih kuat.
Walau sesekali masih ngeluh dan merasa terancam karena kekurangan
fisiknya,saya meyakini, bahwa Livepool FC, Keluarga besar Liverpool FC
disini khususnya,akan banyak membantu perkembangan mentalnya. Dan
kedatangan LFC ke Indonesia adalah momen yang paling berharga, diamana
untuk pertama kalinya Nadya akan saya ajak masuk Stadion terbersar di
Indonesia, menyaksikan Puluhan Ribu saudara Semerah,dan tentu saja
pemain-pemain Indolanya yang dia sering saksikan via Youtube, dan tentu
saja, impian semua anak kecil yang ingin di gandeng pemain pujaanya
memasuksi stadion, dan melihat kemegahan GBK yang merah membara dengan
atmosfir luar biasa dimana ’You’ll Never walk Alone’ berkumandang di
angkasa jakarta. Pasti rasa malu dan minder sebagai seorang difabel
tentu sadah tidak ada lagi saat itu, fiber penyangga pun seperti tulang
yang memiliki syaraf-syaraf yang kembali menggerakan langkah kecilnya
menjadi kian berarti kelak, melebur menjadi sebuah suka cita khas anak
kecil yang selalu butuh keceriaan dan kehangatan.
Dan saya juga
yakin kepedulian liverpool fc secara tim dan para pemainnya soal
kemanusian cukup tinggi, dan para pemain pun sering melakukan
terapi-terapi yang dibutuhkan para pendukungnya yg membutuhkan support
secara pysikis dan mental melalui fondation dan pembaga baik bentukan
club maupun persomal, ini bagian dari rasa terimakasih Steven Gerrard
dan rekan-rekanya di tim karena telah mendapatkan full suport dari para
fans yang sangat loyal walaupun LFC saat ini sedang terpuruk dan minim
prestasi.
Yah begitu kira-kira tulisan saya kali ini, Kalau
liverpool belum stabil sampai saat ini, itu bagian dari terapi yang
harus dilalui dan dijalankan dengan tetap tersenyum manis, semanis buah
carica yang saya olah selama ini. Wasalam.